Harga BBM Non-Subsidi Naik Lebih dari 30%, Beban Harian Kelas Menengah Makin Terasa

Kenaikan harga Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 menambah tekanan biaya bagi pengguna kendaraan pribadi. Meski dampaknya ke inflasi disebut terbatas, efeknya tetap terasa pada anggaran pekerja dan keluarga perkotaan.

2026-06-14 10:00

Kenaikan harga BBM non-subsidi kembali menjadi perhatian karena menyentuh langsung biaya mobilitas harian masyarakat perkotaan. Pertamina menaikkan harga Pertamax 92 dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Keduanya mengalami kenaikan sekitar 32 persen, angka yang cukup besar jika dibandingkan dengan kenaikan pengeluaran rutin lain dalam rumah tangga. Pemerintah menjelaskan bahwa dampak terhadap inflasi umum akan terbatas karena jenis bahan bakar ini bukan BBM bersubsidi yang banyak dipakai angkutan umum. Namun bagi pengguna kendaraan pribadi, khususnya pekerja kantoran, pelaku usaha kecil, dan keluarga kelas menengah, perubahan harga ini tetap terasa nyata setiap kali mengisi tangki.

Inti persoalannya bukan hanya soal angka di papan harga SPBU, tetapi perubahan struktur biaya hidup. BBM non-subsidi biasanya digunakan oleh pemilik mobil pribadi, sebagian pengendara motor tertentu, dan konsumen yang memilih kualitas oktan lebih tinggi untuk kendaraan mereka. Ketika harga naik lebih dari 30 persen, biaya perjalanan ke kantor, antar-jemput anak, kunjungan kerja, hingga aktivitas akhir pekan ikut berubah. Pemerintah benar bahwa efek langsung ke tarif angkutan umum mungkin tidak sebesar kenaikan BBM subsidi, tetapi konsumsi kelas menengah tetap punya dampak ekonomi lanjutan. Orang bisa mengurangi belanja makan di luar, menunda rekreasi, atau lebih selektif memakai kendaraan. Dari sisi psikologis, kenaikan mendadak juga membuat masyarakat merasa biaya hidup bergerak lebih cepat daripada pendapatan bulanan.

Contoh sederhananya terlihat pada pekerja yang mengisi 40 liter Pertamax dalam sepekan. Sebelum kenaikan, biaya isi penuh sekitar Rp492.000. Setelah harga menjadi Rp16.250 per liter, biaya yang sama menjadi Rp650.000. Selisihnya Rp158.000 per minggu, atau lebih dari Rp600.000 dalam sebulan jika pola pemakaian tidak berubah. Untuk keluarga dengan cicilan rumah, biaya sekolah, dan belanja dapur yang juga meningkat, tambahan ini bukan angka kecil. Perbandingannya mirip dengan kenaikan biaya parkir atau langganan internet, tetapi terjadi berulang dan sulit dihindari karena mobilitas masih menjadi kebutuhan. Karena itu, meskipun secara statistik tidak selalu terlihat besar dalam inflasi nasional, dampaknya bisa terasa kuat di dompet rumah tangga.

Langkah paling praktis adalah menghitung ulang biaya mobilitas, bukan hanya mengeluh pada harga baru. Pengguna kendaraan bisa mulai mencatat konsumsi BBM per minggu, menggabungkan beberapa urusan dalam satu perjalanan, memakai transportasi umum pada hari tertentu, atau berbagi kendaraan dengan rekan kerja bila rutenya memungkinkan. Perawatan kendaraan juga penting: tekanan ban yang tepat, servis rutin, beban kendaraan yang tidak berlebihan, dan gaya mengemudi yang halus dapat menghemat konsumsi bahan bakar. Bagi yang memakai mobil untuk usaha, kenaikan ini perlu dimasukkan ke perhitungan harga jasa atau ongkos operasional secara hati-hati agar tidak langsung membebani pelanggan. Pemerintah dan perusahaan juga bisa membantu lewat kebijakan kerja fleksibel, fasilitas transportasi karyawan, atau insentif penggunaan angkutan umum.

Kesimpulannya, kenaikan harga Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 bukan sekadar isu energi, tetapi bagian dari tekanan biaya hidup kelas menengah. Dampaknya terhadap inflasi nasional mungkin terbatas karena tidak langsung menyentuh BBM subsidi dan angkutan umum utama, tetapi dampak personalnya bisa besar bagi pekerja yang bergantung pada kendaraan pribadi. Masyarakat perlu menyesuaikan pola perjalanan dan anggaran, sementara pembuat kebijakan perlu membaca sinyal ini sebagai tekanan nyata di tingkat rumah tangga. Ketika harga energi berubah tajam, ukuran paling penting bukan hanya persentase inflasi, tetapi seberapa jauh keluarga mampu menjaga rutinitas tanpa mengorbankan kebutuhan lain.

Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan telah ditinjau secara cermat untuk akurasi oleh Tim Editorial rhiwooTV.